keluargapanda

dunia mix marriage

Yogya nostalgia

Jogja…,

Buat saya sebuah kota yang membentuk saya sekarang ini, kota yang banyak mengajarkan kemandirian, persahabatan, dan pelarian.

saya memilih menghabiskan masa sekolah di kota yogya sejak tahun 1995 sampai 2004 lumayan lama, masa-masa reformasi pun saya lewati di yogya. Lulus Mts tahun 1998, tepat di masa-masa tragedi kerusuhan mei 1998, bingung mau pulang ke rumah yang berarti harus lewat jakarta, rumah saya daerah pinggiran jakarta.

Saya ingat betul sepulang ujian EBTANAS waktu itu, bareng teman-teman yang rumahnya daerah jabotabek pulang bersama naik kereta ekonomi dari stasiun lempuyangan, harga tiket kereta masa itu masih 12 ribu rupiah saja. Pulang ke Jakarta dalam suasana mencekam, di Kereta sempat bertemu aktivis, entah aktivis apa provokator, dia bolak balik memantau situasi kerusuhan solo-jakarta dan baru saja dia juga memantau situasi yogya lalu berencana balik jakarta.

Bapaknya teman saya sampai memberhentikan kereta di daerah cikampek, dia ga bisa jemput ke Bekasi (si teman biasa turun di stasiun bekasi) karena situasi tersebut.

Saya bareng indah, teman saya yang rumahnya di daerah Cakung, Jakarta timur. Turun di stasiun jatinegara, bingung! ga ada yang jemput saya, kendaraan umum pun sepi, kami menunggu  cukup lama sampai akhir nya datang angkot biru, penumpang hampir penuh tetap kami paksakan masuk, saya berencana ikut pulang sementara ke rumah teman di cakung sebelum pulang ke daerah serpong. (karena ga ada bis sama sekali)

Di perjalanan yang bikin bulu kuduk saya merinding adalah ketika melewati mall klender yang hangus terbakar, bau gosong-nya masih tercium  tajam, hanya banyak terucapa istighfar di bibir setiap melewati daerah bekas kerusuhan.

Sampai dirumah teman, yang tadinya niat sehari saja menginap akhirnya di perpanjang sampai 3 hari, menunggu ada bis jurusan kebon nanas tangerang beroperasi, sementara saya tinggal dirumah teman.

Suasana mencekam masih kerasa, apalagi waktu itu adiknya indah yang baru datang dari bepergian cerita, kalau ada penjarahan toko milik china di dekat rumah, warga ramai disana. duh makin takut aja.

syukurnya dihari ketiga ada bis yang beroperasi, saya bisa pulang dan pemandangan Gedung MPR DPR dari dalam bis bisa saya lihat dengan jelas,  Mahasiswa berseragam almamater biru kuning dan lain-lainnya ramai di gedung tersebut bahkan sampai naik atap-atapnya.

Tahun 1998 saya baru lulus Mts, yang tadinya berpikir untuk melanjutkan sekolah dirumah, saya minta kepada  bapak saya agar bisa tetap melanjutkan SMA di Yogya saja, saya merasa aman disana. Saya tahu banget kondisi ekonomi, krisis moneter, apalagi bapak saya juga kena tipu bisnis wartel, yang harus merelakan mobil kesayangannya di jual. Bapak saya juga tetap menginginkan saya di Yogya biar fokus belajar, rezeki pasti ada, kata Bapak.

Saya bertahan di yogya, melanjutkan SMA, karena orangtua khawatir saya tinggal di kost- mereka meminta saya untuk tinggal di asrama pesantren, dari pagi ke siang saya sekolah, menjelang sore sampai malam status saya menjadi santri.

Belajar hidup sendiri, mengandalkan kiriman uang orangtua, saya ingat sekali, setiap awal bulan saya selalu datang ke kantor salah satu bank pemerintah di dekat malioboro, hanya untuk cek kiriman uang dari orangtua, setiap bulan terutama di waktu subuh selepas mengaji pagi, saya berjalan kaki menuju wartel, biasanya sebelum pukul enam pagi, wartel masih mengenakan tarif diskon untuk telpon interlokal, subuh pun sudah banyak yang antri, saya selalu cemas menunggu antrian kalau mendekati jam 6 pagi belum dapat bilik telpon(telpon ke rumah hanya untuk bilang minta kirim uang , padat singkat kadang lupa nanya kabar kalau uang untuk bayar telpon interlokalnya mepet)

Yogya bagi saya tempat pelarian…,

Ah ga ada masalah besar sih dirumah, cuma karena saya tidak tahan dengan karakter bapak saya yang keras, saya lebih memilih hidup jauh dari mereka, pikir saya daripada deket malah banyak dosa,ngebantah terus, mending hidup jauh. Jadi bisa dibilang saya awalnya tidak begitu dekat dengan sosok bapak, hanya formalitas sebagai hubungan anak-orangtua. Tapi pas menikah di tahun 2011 dan saya pamit akan pindah ke Turki, untuk pertama kalinya saya merasakan pelukan bapak dan matanya yang berkaca-kaca..Jlebb! Rasa sayang bapak tetaplah ada dibalik sifatnya yang kerja

 

Yogya juga mengenalkan saya akan tulusnya persahabatan…,

Saya banyak sekali belajar tentang kehidupan di yogya, meski saya  tinggal di pesantren, saya tidak membatasi diri dalam pertemanan. Disekolah kebetulan sekolah umum bukan sekolah agama, teman saya beragam. Guru saya, tidak semuanya se-agama. Tapi apa jadi hal aneh,sedang saya anak pesantren? Guru saya, namanya bu victoria, dari namanya depannya memang nama baptisnya, beragama katholik. saya suka dengan cara nya mengajar, saya tersentuh dengan segala kebaikannya, pernah ga sengaja bertemu dijalan, saya terburu-buru karena takut gerbang sekolah ditutup, bu victoria lewat dan langsung menawarkan boncengan motornya ke saya.

Di bangku perkuliahan (dan masih di yogya) saya punya 2 sahabat dekat bermarga napitulu, dari namanya jelas mereka orang batak dan kebetulan beda keyakinan, kami dekat bahkan cukup dekat, waktu itu sayapun masih tinggal di asrama pesantren mahasiswa, setiap ada tugas kuliah, kost-kostan mereka adalah markas saya, menginap di kamar kost 2 teman saya ini, maria namanya, dia seorang  katholik yang taat, patung bunda maria, rosario selalu dipajangnya di meja kecil dekat tempat tidurnya, untuk menghormati saya, apalagi kalau saya mau sholat, sementara dia simpan dahulu  simbol keyakinannya, karena pas sekali posisinya di arah kiblat.

Saya sholat dan tidak bawa mukena, maria menyimpan sarung bersih, bisa dipakai buat sholat, sajadah dia pinjam ke teman rumah kost nya yang muslim. Tidak ada hal aneh dalam pertemanan kami, bahkan mereka berdua pernah penasaran dengan kehidupan pesantren, tanpa ragu saya undang mereka berkunjung ke asrama, teman-teman sayapun memahami dan menghormati mereka, mengenalkan ini lah islam, kehidupan diasrama. Tanggapan mereka positif.

Yogya…kota yang selalu membawa penuh kenangan jika terucap kembali, meski saya tidak lahir di kota itu ,sembilan tahun bukan lah waktu yang sebentar, Yogya yang membesarkan saya.

Saya lebh memilih Yogya waktu itu ketimbang pulang kampung dan melanjutkan sekolah di dekat jakarta, masa-masa reformasi bukan masa yang mudah, pilihan bertahan di yogya karena rasa aman dan nyamannya.

Tahun 2011, terakhir kalinya saya pergi ke yogya itupun selepas menikah, pilihan bulan madu mengajak suami untuk liburan ke yogya, saya ingin mengenalkan kota yang saya cintai kepadanya.

Hampir 7 tahun berlalu sejak terakhir kali saya menginjakan kaki di Yogya,  dan hampir 14 tahun saya pamit meninggalkan yogya, saya ingat terakhir kalinya saya di Yogya, selepas wisuda dan semua urusan beres, saya meninggalkan yogya dengan bis malam menuju Jakarta, padahal pilihan naik kereta api selalu saya ambil untuk transportasi jakarta-yogya. Saya benar-benar menangis meninggalkan kota itu.

Kota yang membesarkan saya, membuat saya lebih mandiri, memperkaya saya dengan banyak pengalaman hidup di usia muda.

Rasanya kalau ditanya, kalau ada pilihan tinggal di indonesia, milih kota mana? Nama yogya karta akan jadi prioritas utama saya, dibanding jakarta atau bogor tempat lahir saya.

Ada yang punya kenangan istimewa tentang yogya?

yuk bagi cerita….saya lagi ingin nostalgia heheh

 

Rahma balci

saya menyukai dunia menulis, saya suka bercerita, saya suka jalan, saya suka baca, lalu lahirlah keluargapanda.com, Enjoy reader!:)happy blogging

You might also be interested by

Tinggalkan komen di sini

posted by rangiRuru on May 15, 2018

Setiap ke Jogja saya selalu gunakan kata “pulang”, saya tidak lahir dan besar di kota ini. Pertama kali kesini diajak bapak buat daftar sekolah kakak saya, ke-2 nya sekolah dikota ini jadi sempat minimal setiap tahun ke kota ini untuk antar-jemput kakak. Sekarang sering berkunjung ke jogja karena salah satu kakak saya menikah dg wong jogja. Saya juga suka kota ini.

  • replied by Rahma balci on May 15, 2018

    jogja selalu ngangenin..masa2 remaja dihabiskan di jogja..rasanya kyk pgn balik lagi hehe

%d bloggers like this: